Cerita Melayu Kuno
Hikayat Hang Tuah
NAMA
Hang Tuah bisa dipastikan tak asing di telinga banyak orang. Sama halnya dengan
banyak tokoh yang dianggap berperan dalam sejarah bangsa ini, nama Hang Tuah
pun diabadikan pada ruas-ruas jalan di Jakarta dan di beberapa daerah lain
lagi. Bahkan, nama Hang Tuah juga diabadikan pada kapal perang pertama milik
Indonesia. Pemberian nama itu untuk mengenang kejayaan Hang Tuah yang selalu
mencapai kemenangan di laut. Namun, tidak seperti tokoh-tokoh bersejarah
lainnya, tak banyak yang tahu siapa Hang Tuah yang diabadikan namanya itu? Apa
perannya dalam sejarah negeri ini?

Tak
banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul
Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling
panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku
berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan
sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat
terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di
berbagai perpustakaan di dunia.
PADA
buku Hikajat Hang Tuah terbitan Balai Pustaka, kisah tokoh yang di Malaysia
dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional ini diuraikan dalam 24 bab
panjang. Pada pengantar disebutkan, buku tersebut disalin dari salah satu
naskah tulis tangan huruf Arab. Pada sampul bagian dalam tertulis: “Inilah
hikajat Hang Tuah jang amat setiawan kepada tuannja dan terlalu sangat berbuat
kebadjikan kepada tuannja”.
Kisah
dimulai dengan bab yang menguraikan asal muasal raja-raja di Malaka atau
Melayu. Dengan diantar oleh kata-kata: “Sekali peristiwa…”, diceritakan tentang
seorang raja keinderaan (kayangan-Red) Sang Pertala Dewa, yang akan mempunyai
seorang anak dan dia akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan
sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi
raja-raja di tanah Melayu.
Hang
Tuah diceritakan sebagai anak Hang Mahmud. Dikisahkan, setelah mendengar kabar
gembira tentang negeri Bintan sudah mempunyai seorang raja yang tak lain adalah
cucu dari Sang Pertala Dewa, Hang Mahmud pun bergegas mengajak istri dan
anaknya pindah ke sana. Di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan
Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu
diceritakan selalu bersama-sama, seperti lima orang bersaudara.
Suatu
hari, Hang Tuah mengusulkan pada keempat sahabatnya untuk pergi berlayar dan
merantau bersama-sama. Empat sahabatnya pun setuju, dan mereka berangkat
berlayar. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menundukkan tiga perahu yang
ternyata adalah musuh Bintan dari Siantan. Kawanan tersebut tak lain adalah
kaki tangan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang ingin memperluas kekuasaan
dengan merompak di Tanah Palembang. Akhirnya, lima sekawan itu diangkat menjadi
abdi salah seorang pemimpin di negeri Bintan, yang dipanggil Bendahara Paduka
Raja. Dari sinilah kisah perjuangan Hang Tuah yang akhirnya justru mendapat
gelar laksamana dari Raja Majapahit dimulai.

Hang
Tuah memang membawa Malaka pada kejayaan. Tidak hanya ia berhasil membendung
serangan dari Majapahit. Ke mana saja ia diutus dan apa pun tugas yang diemban,
selalu membuahkan hasil. Namun, dengan masuknya orang-orang dari Eropa,
terutama Belanda, akhirnya kejayaan Malaka dihancurleburkan. Pada bagian akhir
dikisahkan, Malaka jatuh ke tangan orang-orang dari Johor dan Belanda. Hang
Tuah sendiri dikisahkan masih hidup dan tinggal di negeri Batak, menjadi wali
agama dan raja.
DEMIKIAN
cuplikan kisah tokoh bernama Hang Tuah dari salah satu versi terbitan Balai
Pustaka. Tak ada yang tahu, siapa sesungguhnya pengarang Hikajat Hang Tuah.
Tahun persis kapan pertama kali kisah ini muncul pun hingga kini tak bisa
dipastikan. Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini
pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk
naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.
Menurut
Prof Dr Sulastin Sutrisno (lihat Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi) yang
pernah mengangkat Hikajat Hang Tuah menjadi sebuah disertasi, siapa pengarang
sesungguhnya memang sulit dipastikan. Namun, yang jelas, karya tersebut
mengundang kekaguman sendiri. Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah
sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan
apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang
Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah,
namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada
beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti
Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.
Salah
seorang ahli sastra, Sir Richard Windstedt, menyebutkan, karya sastra klasik
seperti Hikajat Hang Tuah ini identik dengan syair-syair bermuatan kisah
kepahlawanan yang banyak dihasilkan di Jawa pada abad ke-11. Karya-karya ini
dikatakan mengubah sejarah menjadi mitos, atau sebaliknya mengubah mitos
menjadi sejarah. Dalam Hikajat Hang Tuah, nuansa fiktif maupun mitos di
antaranya terwakili melalui ketiadaan keterangan waktu dalam setiap peristiwa,
kehadiran negeri kayangan yang dipimpin Sang Pertala Dewa maupun perubahan
wujud Hang Tuah menjadi harimau dalam sebuah perkelahian (hal 164).

0 komentar:
Posting Komentar